Makna dan Lirik Lagu Homura – LiSA (OST Kimetsu no Yaiba)
“Selamat tinggal, terima kasih, sekuat suaraku”
Homura · arti harfiah: Nyala Api
IntinyaHomura menaruh terima kasih di depan kesedihan dan menyimpan judul apinya sampai penutup, tempat api dinyalakan oleh yang ditinggalkan di dadanya sendiri.
Lirik & Terjemahan Homura – LiSA
↕ Scroll di dalam kotak buat lirik lengkapnya
Arti & Makna Lagu Homura – LiSA
Homura adalah lagu yang mengucapkan selamat tinggal sambil berterima kasih, dan sengaja menaruh terima kasihnya di depan kesedihan. Dua baris pembukanya bilang persis begitu, "Selamat tinggal, terima kasih, sekuat suaraku" lalu "Sesuatu yang lebih penting daripada kesedihan". Sisanya menghitung ongkos kehilangan itu, dari cahaya yang masih terasa panas di dada sampai janji menjaga kata-kata dan keinginan orang yang pergi. Dalam komentar yang dimuat Music Natalie, LiSA menaruh maksudnya terang-terangan: arc Mugen Train adalah kisah favoritnya di manga aslinya sehingga lagu ini punya tempat yang lebih dalam di hatinya, dan dia berharap orang-orang yang memendam kesedihan bisa menyalakan api di hati lalu melangkah maju.
Judulnya sendiri disimpan sampai bagian penutup. Homura berarti api, dan kata itu cuma muncul sekali di liriknya, waktu kalimatnya berhenti bicara ke orang yang pergi dan berbalik ke penyanyinya sendiri, "Kunyalakan homura di dalam hatiku". Apinya dinyalakan oleh yang ditinggalkan, di dadanya sendiri, jadi penutup lagu ini terbaca sebagai keputusan yang diambil seseorang untuk dirinya, bukan seruan yang dialamatkan ke pendengarnya. Yang bikin baris itu tidak terbaca sebagai kiasan tempelan adalah LiSA memakai gambaran yang sama di luar lagunya, dua kali. Di komentar yang sama ke Music Natalie, dia menulis harapan supaya orang menyalakan api di hati sambil tetap memendam kesedihan. Dan di komentar penerimaan Japan Gold Disc Award yang dimuat situs resminya, dia menutup dengan harapan agar hati orang-orang yang terus melangkah maju tetap menyala.
Kesan kami, bagian paling kuat lagu ini ada di tempat yang menolak berlama-lama sedih. Dua baris menjelang penutup memilih arah yang keras kepala, bergerak maju tanpa menoleh ke belakang lalu berteriak sambil hanya menghadap ke depan, dan baru sesudah itu apinya dinyalakan di hatinya sendiri. Buat kami urutan itu yang bikin Homura terasa seperti perpisahan yang sudah selesai menangis, bukan yang sedang menangis.
Nyala api. Kata sastrawi yang terasa lebih khidmat daripada hi atau honoo. — Judul lagunya, dan cuma muncul sekali di lirik, di baris penutup "kokoro ni homura o tomoshite". Kolom terjemahan sengaja membiarkannya berdiri apa adanya.
Fakta Menarik
Nonton di YouTube, di sini aja
Player Apple Music-nya ada di pojok bawah layar — bisa di-minimize kalau ganggu.

